Rabu, 12 Januari 2011

SUDAH SAATNYA PEMBIAYAAN PROYEK JEMBATAN SELAT SUNDA (JSS) MENERAPKAN SISTEM ANGGARAN NON-KONVENSIONAL


Indonesia merupakan Negara maritim yang terdiri dari kepulauan-kepualauan. Dalam menunjang kegiatan kerja sama antar pulau-pulau tersebut, maka munculnya suatu obesesi besar yaitu dengan menghubungkannya melalui pembangunan infrastruktur berupa jembatan. Salah satu mahakarya visioner yang telah dilakukan yaitu pembangunan Jembatan Suramadu yang menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Madura. Dilatarbelakangi kesuksesan terbangunnya Jembatan Suramadu, pemerintah memiliki rencana dalam pembangunan jembatan sejenis yaitu dengan membangun Jembatan Selat Sunda(JSS) yang menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Sumatra, dan melintasi Selat Sunda sejauh 29 kilometer. Bila terwujud, inilah jembatan terpanjang di dunia dengan panjang lebih dari 30 kilometer. Kelebihan JSS dari jembatan Suramadu, JSS ini menerapkan adanya ruang untuk pembangunan rel kereta api sehingga tidak hanya kendaraan saja yang bisa melewati jembatan ini.

Jembatan Selat Sunda (JSS) diharapkan dapat mampu mempercepat perkembangan wilayah Jawa-Sumatra, mendinamisasi potensi pertumbuhan ekonomi yang sangat besar bagi Jawa dan Sumatra serta JSS dapat dijadikan simbol yang lebih nyata terhadap kesatuan NKRI dari Sabang sampai Merauke agar lebih bersifat ideal dan administratif.

Isu masalah yang timbul dalam pembangunan megaproyek JSS yaitu dari segi pembiayaan. Dalam laporan pra-studi kelayakan diperkirakan proyek JSS ini akan menelan biaya sekitar USD10 juta atau sekitar 100 trilyun rupiah. Berdasarkan Direktur Perencanaan dan Pengembangan Pendanaan Bappenas memperkirakan, kemungkinan besar APBN hanya sanggup membiayai 30% dari keseluruhan biaya proyek atau sekitar Rp 30 triliun. Itu pun dengan skema pembiayaan multi years. Apabila harus melakukan pinjaman, pinjaman ini juga terbatas, harus dijaga US$ 2 miliar sampai US$ 3 miliar per tahun.


Dalam hal pembiayaan, pemerintah juga menerapkan sistem kemitraan dengan swata atau sistem
Public Private Partnership (PPP) yaitu dengan membuka kesempatan bagi semua investor termasuk asing, untuk berinvestasi dan terlibat dalam pembangunan proyek JSS tersebut. Namun resikonya, dengan jangka waktu proyek selesei hingga 10 tahun yaitu pada tahun 2010, maka perbankan/investor harus rela melepas dananya tanpa beranak pinak selama kurun waktu tersebut.

Kontraktor utama proyek JSS ini adalah PT Bangungraha Sejahtera Mulia, perusahaan group Arta Graha sedangkan investor swasta yang berasal dari dalam negeri yaitu PT.Jasa Marga. Untuk Investor asing terdapat 5 investor yang berminat untuk berinvestasi, yaitu dari China Jepang, Timur Tengah, Prancis, dan Korea. Namun hanya Cina yang menunjukan keseriusan dalam mengerjakan proyek ini melalui China Development Bank (CDB). Sebagai kompensasi aplikasi pasar bebas ASEAN-Cina, Cina menyediakan US$ 15 miliar untuk mendukung kapasitas ASEAN, dalam bentuk investasi dan pinjaman proyek. Dana inilah yang dibidik pemerintah untuk proyek pembangunan JSS ini.

Berdasarkan studi kasus proyek JSS tersebut apabila dibandingkan dengan proyek pembangunan jembatan Suramadu terdapat beberapa kesamaan dalam segi pembiayaannya. Kedua proyek sama-sama menggunakan dana konvensional yang berasal dari pemerintah berupa APBN/APBD, walaupun Suramadu menggunakan dana APBD sedangkan JSS menggunakan dana dari APBN. Kesamaan yang lain yaitu kedua proyek menggunakan dana pinjaman dari investor asing dari Cina berupa
Public Private Partnership (PPP).

Sudah saatnya pembangunan proyek JSS pada khususnya dan infrastruktur di Indonesia pada umumnya mulai menerapkan sistem pembiayaan alternatif yang bersifat non-konvensional dalam menutupi kebutuhan pembiayaan. Untuk sumber pembiayaan nonkonvensional yang bisa diterapkan sebagai alternatif pembiayaan JSS antara lain dapat berupa
Development impact fees, Obligasi, Concessions (BOT) serta Betterment levies. Dalam masa pembangunan, JSS dapat menerapkan sumber alternatif pembiayaan berupa Development impact fees, Obligasi, Concessions (BOT). Sedangkan Betterment levies diterapkan ketika JSS ini sudah dibangun.

  • Develompment impact fees merupakan biaya yang dikeluarkan developer atas dampak yang diakibatkan adanya pembangunan JSS ini, salah satu dampak dari segi ekologi akibat JSS yaitu adanya penurunan luas RTH akibat pembangunan proyek tersebut.
  • Obligasi, dapat dilakukan dalam pembiayaan proyek. Dengan mempublikasikan manfaat yang diperoleh dari pembangunan JSS sehingga dapat menarik minat masyarakat umum untuk berinvestasi.
  • Concessions BOT (Build-Operate-Transfer) dilakukan melalui kerjasama pemerintah dengan pihak swasta, namun beban pemerintah dalam pembiayaan dapat terkurang, karena dalam tahapan pengelolaannya, pendanaan akan diserahkan pada swasta, dan pada jangka waktu tertentu, hasil pembangunan tersebut akan kembali ke pemerintah.
  • Betterment levies dapat diberlakukan ketika JSS sudah selesai dibangun, yaitu dengan memacu dalam meningkatkan jumlah pengguna infrastruktur JSS dengan strategi mengadakan event/kegiatan di sisi pulau Jawa maupun Sumatra supaya terjadi tarikan, sehingga dapat mempercepat pengembalian modal investasi.

Selain sumber pembiayaan alternatif tersebut, perlu dibentuk lembaga khusus yang mengelola kawasan sekitar JSS, seperti halnya proyek Suramadu yang mempunyai lembaga khusus berupa “Badan Pengelola Wilayah Suramadu”, fungsinya, yaitu mengoordinasi dan mengusulkan kepada pemerintah pusat tentang apa saja yang dibutuhkan untuk memanfaatkan nilai ekonomi dan potensi JSS sehingga potensinya lebih optimal.

Jumat, 04 Juni 2010

Evaluasi Pembangunan Taman Kota Surabaya

EVALUASI PEMBANGUNAN TAMAN KOTA SURABAYA



Salah satu fasilitas umum perkotaan yang dapat digunakan sebagai indikator dalam mengetahui kualitas lingkungan hidup suatu kota adalah ketersediaan akan fasilitas umum berupa sarana ruang terbuka hijau (RTH). Kota yang mempunyai kualitas hidup baik, adalah kota yang dapat menyediakan RTH sesuai dengan kebutuhan penduduknya, atau minimal sesuai dengan standar minimum 30 persen. Salah satu bentuk usaha dalam penyediaan RTH dalam suatu kota dapat dilakukan dengan adanya pembangunan berupa fasilitas Taman Kota.

Surabaya sebagai kota Metropolitan kedua setelah Jakarta, keberadaan Taman Kota ini sangat diperlukan. Pemerintah Kota serta Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya telah berupaya dalam menambah jumlah RTH melalui Taman-taman kota agar kondisi ruang terbuka hijau makin bisa dirasakan manfaatnya oleh warga kota. Selain sebagai daerah resapan dan pengurang polusi, Taman-taman kota ini juga menyuguhkan keindahan sekaligus kenyaman sebagai tempat rekreasi keluarga. Taman-taman Kota tersebut antara lain yaitu :


Taman Prestasi

Berada di Taman Prestasi bagai menemukan sebuah oase di tengah kota. Taman seluas 6.000 m2 ini dihiasi sekitar 21 jenis tanaman sehingga terasa nyaman untuk melepas penat. Anak-anak pun dapat bermain sambil belajar mengenal lingkungannya. Area ini dilengkapi panggung terbuka, panggung teater, dan sarana permainan anak. Di sini, kita juga dapat menyaksikan replika penghargaan yang pernah diraih Kota Surabaya, seperti Wahana Tata Nugraha, Adipura Kencana, dan lain-lain. Obyek wisata ini juga menawarkan petualangan lain, seperti menyusuri Kalimas dengan perahu naga atau perahu dayung. Bahkan, bagi keluarga yang ingin menikmati suasana asri taman dengan menunggang kuda, telah tersedia kuda-kuda anak-anak. kekar yang siap mengantar.


Taman Bungkul

Revitalisasi Taman Bungkul dengan konsep Sport, Education, dan Entertainment telah diresmikan sejak 21 Maret 2007. Area seluas 900 m2 yang dibangun dana sekitar Rp 1,2 milyar dilengkapi berbagai fasilitas, seperti skateboard & sepeda BMX track, jogging track, plaza (sebuah open stage yang bisa digunakan untuk live performance berbagai jenis entertainment), akses internet nirkabel (Wi-Fi atau Hotspot), telepon umum, arena green park seperti kolam air mancur, dan area pujasera. Bahkan, taman ini juga dilengkapi dengan jalur bagi penyandang cacat agar mereka pun bisa ikut berekreasi. Taman yang berada di jalan protokol yakni di Jl. Raya Darmo itu makin bisa dirasakan manfaatnya bagi warga kota metropolitan Taman Kota Surabaya.


Taman Kalimantan

Fungsi taman kota Surabaya sebagai tempat olahraga, rekreasi warga kota, hang out, dan menghirup udara segar jauh dari polusi, makin banyak alternatif. Surabaya bahkan telah memiliki taman lanjut usia atau taman lansia. Area yang dimanfaatkan sebagai taman alternatif untuk para lanjut usia itu berlokasi di Jalan Kalimantan. Area seluas sekira 2.000 m2 eks-SPBU Kalimantan itu, di set up menjadi taman yang cantik sekaligus segar.

Beragam tanaman dan bunga cantik menghiasi. Di sela warna-warni tanaman indah itu tersedia track yang khusus dibuat untuk kenyamanan kursi roda para lansia. Ada pula tempat duduk untuk pengantar saat menemani para lansia menikmati suasana kota di pagi atau sore hari. Kesejukan suasana di taman ini kian segar oleh keberadaan air mancur di tengah taman. Kesegaran itu tentu bisa memecah kepekatan polusi udara dari kendaran bermotor yang cukup padat melewati bilangan ini.


Taman Apsari

Taman Apsari memiliki keunikan dibanding kawasan Surabaya lainnya. Taman yang berada di depan Gedung Grahadi itu terasa sejuk dan relatif tenang, meski tempatnya di tengah kota. Area ini di dalamnya terdapat Patung Suryo dan Joko Dolog. Di area seluas 5.300 m2 itu dilengkapi lebih kurang 20 jenis bunga dan tanaman. Di sela bunga dan tanaman itu disediakan jogging track yang nyaman untuk jalan-jalan. Sebagian anak muda bahkan menggunakannya untuk bermain skateboard.


Taman Flora

Taman Flora seluas 2,4 hektar di eks Kebun Bibit Baratang Surabaya kian bertambah nilainya. Selain rindang oleh ratusan jenis pohon dan tanaman, taman ini juga disebut Techno Park karena dilengkapi fasilitas teknologi internet. Setelah diresmikan Agustus 2007, area ini dilengkapi sebuah ruang sekitar 5x10 m2 sebagai ruang pembelajaran IT dengan 6 line jaringan komputer yang tersambung internet. Ruangan ini juga dilengkapi software berbagai games interaktif untuk sosialisasi tentang lingkungan dan masalah sampah. Techno Park ini sifatnya interaktif, yang dapat dimanfaatkan oleh anak-anak sekolah untuk praktek atau membentuk komunitas IT.


Taman Sulawesi

Area seluas 2.259 m2, eks SPBU Sulawesi, kini telah disulap menjadi taman yang indah. Taman Sulawesi ini pun menambah deretan taman rekreasi yang nyaman bagi keluarga di Surabaya. Warga kota kerap memanfaatkan tempat ini untuk wisata bersama keluarga dan anak-anaknya. Area ini tampak elok oleh warna-warni 50 jenis bunga dan tanaman yang menghiasi taman. Arena wisata ini juga dilengkapi jogging track, shelter, arena permainan anak, dan air mancur. Anak-anak muda sering memanfaatkan tempat ini untuk bermain skateboard dan olahraga sepatu roda. Area ini selalu tampak indah, baik pada siang maupun malam hari, karena dilengkapi lampu penerangan dan lampu hias warna-warni.


Taman Yos Sudarso

Taman Yos Sudarso terdiri dari taman dan pedestrian yang kerap dijadikan jalan kaki warga kota maupun turis mancanegara. Di area taman ini terdapat monumen Panglima Sudirman yang tampak kian gagah diterangi sorot lampu di waktu malam. Para penghobi skateboard kerap menjadikan track di bawah monumen sebagai arena berlatih dan mengadu kemampuan. Bahkan di akhir pekan, sekitar tamanan dan pedestrian ini ramai dikunjungi warga Kota Surabaya untuk sekadar dudukduduk bersama sanak keluarganya.


Taman Dr. Soetomo

Jalur Dr. Soetomo-Darmo maupun Dr. Soetomo-Diponegoro merupakan jalur kota yang ramai. Namun, melewati jalur ini berada teduh karena terdapat taman yang membelah dua jalur tersebut. Apalagi di jalur ini terdapat bundaran yang dijadikan taman untuk interaksi keluarga. Tak jarang warga kota menikmati keceriaan bersama keluarga di taman seluas 103 m2 ini. Taman ini dilengkapi sekitar enam tanaman warna-warni dan jogging track untuk jalan-jalan atau untuk anak-anak bersepeda.


Taman Mayangkara

Taman Mayangkara dibangun antara lain untuk mengenang keberanian Batalyon 503 Mayangkara di bawah pimpinan Mayor Djarot Soebyantoro saat menghadapi Belanda. Di area Taman Mayangkara, di depan Rumah Sakit Islam (RSI), terdapat monumen Mayor Djarot Soebyantoro menaiki kuda putih Mayangkara. Warga Surabaya biasa menyebut Monumen Mayangkara. Berada di lokasi ini terasa makin nyaman karena seluruh area taman telah berhias warna-warni bunga dan tanaman hias. Bahkan, di sekeliling monument dilengkapi arena untuk jalan-jalan dan sarana untuk memadu keceriaan bersama keluarga.

Taman Ronggolawe

Monumen Ronggolawe di Jalan Gunungsari didirikan sebagai kenangan bahwa Surabaya memiliki sosok pemberani dan berjiwa kepahlawanan tinggi. Area monumen itu pun dibuat menjadi Taman Ronggolawe. Setelah dilakukan pembenahan, taman itu kian sering dijadikan tempat bersuka ria warga kota Surabaya bersama keluarga, karena terdapat playground area untuk anak-anak. Kenyamanan di bawah rindangnya pepohonan juga kerap dimanfaaatkan anak-anak sekolah untuk belajar dan bermain di sekitar taman. Area sisanya juga sering digunakan anak-anak muda untuk area bermain sepak bola.


Dalam pembangunan Taman Kota ini, kerja keras Dinas Kebersihan dan Pertamanan masih menyentuh angka sekitar 12 persen dari ruang terbuka hijau dari yang akan diselesaikan. Sesungguhnya pencapaian ini masih jauh dari kondisi ideal. Sebab, melihat luas wilayah Surabaya 32.636.768 Ha selayaknya kota ini memiliki ruang terbuka hijau seluas 9.791.030 Ha atau sekitar 30 persen dari Luas wilayah Surabaya (sebagaimana yang diamanatkan dalam UU Nomor 26 tahun 2007, tentang Tata Ruang Kota dan Perda Nomor 3 tahun 2007).


Dalam mengevaluasi Pembangunan Taman Kota yang ideal, di bawah ini akan dijelaskan tentang kriteria-kriteria dari setiap fungsi RTH


Fungsi RTH

Keterangan

Kawasan Hijau Pertamanan Kota

90% dari luas areal harus dihijaukan. Sedangkan 10% lainnya dapat digunakan untuk kelengkapan taman, seperti jalan setapak, bangku taman, kolam hias, dan bangunan penunjang taman lainnya

Kawasan Hijau Hutan Kota dan Kawasan Konservasi

90% - 100% dari luas areal harus dihijaukan. Sedangkan areal lainnya dapat digunakan untuk kelengkapan penunjang kawasan tersebut ;

Kawasan Hijau Rekreasi Kota

60% dari luas areal harus dihijaukan. Areal yang tidak dihijaukan digunakan untuk sarana/bangunan penunjang seperti Gazebo/Bale-bale, Kantor Pengelola, Ruang Pameran, Tempat Bermain Anak, Parkir dan kelengkapan taman lainnya ;



KESIMPULAN

Dari hasil evaluasi ini dapat disimpulkan bahwa :

  • Jumlah RTH dari Taman Kota di Surabaya sampai tahun 2010 masih mencapai sekitar 12-20 persen, dimana kondisi ideal RTH Kota Surabaya harus mencapai 30 persen dan belum memenuhi target.

  • Fungsi utama taman Kota Surabaya adalah sebagai filter udara, daerah tangkapan air mengurangi kadar zat pencemar udara, mengurangi polusi udara dari kendaraan bermotor dan menambah keindahan kenyamanan kota.

  • Sebagian besar Taman Kota di Surabaya merupakan kawasan hijau yang diperuntukan juga sebagai tempat rekreasi dan sudah memenuhi kriteria sebagai kawasan Hijau Rekreasi Kota.


REKOMENDASI

Dalam rangka meningkatkan kualitas lingkungan hidup dan masyarakat yang ada, maka ketersediaan RTH kota di wilayah Surabaya saat ini perlu ditingkatkan, baik secara kualitas maupun kuantitas. Berikut rekomendasi arahan penyediaan RTH kota di Surabaya melalui Taman Kota adalah:

  • Meningkatkan kualitas RTH di Taman kota, mulai dari perawatan tanaman maupun sarana prasarana pendukung.
  • Penambahan Taman Kota dengan fungsi sebagai Kawasan Hijau Hutan Kota perlu untuk terus dilakukan, dengan melakukan penambahan di beberapa titik lokasi di Surabaya, khususnya yang memiliki tingkat polusi tinggi.